APA KABAR UTANG NEGARA!!!
( https://ivoox.id/lelang-surat-utang-pemerintah-serap-rp20-triliun/ )
Kementerian Keuangan melaporkan realisasi pembiayaan UTANG telah mencapai Rp274,33 T dari target Rp399,22 T yang ditetapkan pada APBN 2018. Angka tersebut telah mencapai sebesar 68,72% APBN. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017, realisasi pembiayaan utang mengalami pertumbuhan negarif sebesar 18,49%. Surat Berharga Negara (SBN) yang terdiri dari dua jenis Surat Berharga Negara Konvensional dan Surat Berharga Syariah Negara (SUKUK), secara neto ditetapkan sebesar Rp414,52 T dalam APBN 2018, dari target tersebut telah terealisasi sebesar Rp 270,47 T (65,25% APBN).
Dalam mendukung pencapaian target pembiayaan APBN dan untuk memperdalam pasar domestik, Pemerintah selalu berusaha mengelola pembiayaan dengan pruden dan memastikan bahwa setiap pembiayaan digunakan untuk kegiatan produktif. Pemerintah pada bulan Agustus 2018 telah meluncurkan Saving Bond Retail 004 (SBR004) dan untuk SBSN nya pemerintah juga telah meluncurkan ST002 (Sukuk Tabungan 002) dan pemerintah akan terus menawarkan SBN maupun SBSN untuk kedepannya.
"diharapkan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan Indonesia semakin meningkat sehingga tujuan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pembiayaan asing akan semakin berkurang." tertuang Kemenkeu ( Kementerian Keuangan) dalam Laporan APBN kita bulan September 2018.
Pinjaman terdiri atas pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri. Untuk pinjaman dalam negeri yang ditetapkan sebesar Rp3,14 T realisasinya mencapai Rp484,00 M atau 15,42% APBN. Sampai dengan Agustus 2018 pemerintah telah menarik pinjaman dalam negeri sebesar Rp997,10 M dan melakukan pembayaran cicilan pokok sebesar Rp513 M. Pada APBN 2018, Pinjaman luar negeri (neto) ditetapkan sebesar negatif Rp 18,44 T. Sementara pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri ditetapkan sebesar Rp69,79 T dan penarikan pinjaman luar negeri diproyeksikan sebesar Rp51,35. Pada periode Agustus 2018 pinjaman luar negeri telah terealisasi sebesar Rp3,38 T atau sebesar negatif 18,33% APBN). Penarikan pinjaman luar negeri periode ini sebesar Rp44,74 T (87,14% APBN).
Realisasi pembiayaan utang diatas menunjukan bahwa pemerintah masih mampu memenuhi kewajiban membayar cicilan pokok maupun membayar bunga utang. Selama ini Pemerintah senantiasa memantau pergerakan
nilai tukar rupiah dan mengantisipasinya dengan
menganggarkan pembayaran kewajiban tersebut di APBN
dalam jumlah yang cukup sehingga terhindar dari gagal
bayar (default).
Posisi Utang hingga akhir Agustus
2018
Posisi Utang Pemerintah hingga
akhir Agustus 2018 berjumlah
Rp4.363,19 triliun. Dengan jumlah
PDB diperkirakan Rp14.395,07 triliun,
rasio utang Pemerintah per akhir
Agustus menjadi 30,31 persen.
Persentase tersebut masih jauh di
bawah batas 60 persen terhadap PDB
sebagaimana ketentuan Undangundang
Keuangan Negara Nomor 17
Tahun 2003. Komposisi SBN sampai dengan akhir
Agustus 2018 mencapai 81,18 persen,
lebih besar jika dibandingkan dengan
tahun lalu sebesar 80,71 persen dari
total outstanding. Kenaikan tersebut
sejalan dengan strategi Pemerintah
untuk melakukan pendalaman pasar
obligasi, mengingat posisi Indonesia
yang sudah naik kelas menjadi
Middle Income Country yang tidak
berhak lagi memperoleh pinjaman
lunak (konsesional). Berdasarkan
sumber SBN, komposisi utang SBN
dalam Valuta Asing naik ke angka
23,84 persen terhadap total utang
dari sebelumnya sebesar 22 persen
terhadap total utang.
Utang Pemerintah yang mengalami
kenaikan salah satunya dikarenakan
faktor eksternal seperti penurunan
nilai mata uang Rupiah terhadap
mata uang asing lainnya terutama
dolar AS mempengaruhi besaran
total outstanding utang untuk bulan
Agustus ini. Apabila ditilik secara
mendetail, total posisi utang untuk
SBN bedenominasi Rupiah lebih
besar dibandingkan dengan SBN yang
berdenominasi Valuta Asing. Dengan
demikian, risiko fluktuasi nilai Rupiah
terhadap posisi utang Pemerintah
dapat diminimalkan.
Di sisi lain, SBSN (Sukuk) juga
mengalami kenaikan karena
semakin banyaknya Kementerian/
Lembaga yang melihat potensi dan
menggunakan Sukuk Negara sebagai
salah satu sumber pembiayaan
proyek dari Kementerian/Lembaga.
Hal ini mendorong peningkatan
jumlah SBSN secara signifikan.
Selain faktor eksternal, pertumbuhan
utang pemerintah juga disebabkan
oleh dijalankannya strategi front
loading. Strategi front loading
merupakan strategi yang dilakukan
pemerintah dengan menarik
pembiayaan di awal pada saat
suku bunga di pasar masih rendah
sebelum kenaikan Fed Fund Rate yang
direncanakan akan beberapa kali
di tahun ini, sehingga beban utang
dapat semakin minimal.
Strategi front loading yang diterapkan
Pemerintah serta Pertumbuhan
SBN berdenominasi Rupiah
memperlihatkan bahwa kepercayaan
investor akan ekonomi Indonesia
masih cukup tinggi. Hal tersebut
secara tidak langsung membuktikan
bahwa investor percaya Pemerintah
Indonesia mengelola pembiayaan
secara hati-hati dan terukur.




Terima kasih infonya mbaak
BalasHapusInfonya semoga brmnfaat mbk din
BalasHapusNice post, Barakallaah 👍
BalasHapusNice post
BalasHapusMantap artikelnya. Bermanfaat.
BalasHapusMantul mba dinnn, sangat informatif
BalasHapusSungguh indah
BalasHapusBagus sekali dek dinda
BalasHapusKOK BAGUS
BalasHapusThx infonya
BalasHapusbagus DINDA semangat terus
BalasHapusTerimakasih kak infonya. Sangat bermanfaat
BalasHapusWahh sangat bermanfaat sekali, good job👍👍
BalasHapus